Back to all articles
April 17, 2026·By Arsyad Ali Mahardika

Tips Lomba FIKSI, 10 Hal yang aku lakukan sampai dapet juara

fiksibusiness-strategy
Tips Lomba FIKSI, 10 Hal yang aku lakukan sampai dapet juara

Halo semuanya! Perkenalkan, nama aku Arsyad Ali Mahardika biasa dipanggil Arsyad. Aku alumni SMK Telkom Malang, Juara 1 di FIKSI 2024 di bidang Teknologi Digital-Pengembangan Usaha, Juara 1 LKS Artificial Intelligence 2025.

Di tulisan ini, aku mau share perjalanan, tantangan, dan langkah-langkah konkret yang bisa kalian terapkan buat FIKSI 2026. Tanpa basa-basi, yuk langsung masuk ke inti ceritanya.

Ide Inovasi Waktu FIKSI

Singkatnya, inovasi yang aku bawa adalah textile waste management system yang menghubungkan contributor (masyarakat) langsung dengan recycler. Fokus utamanya gimana bikin sistem yang bisa ngatur aliran limbah tekstil dari hulu ke hilir secara lebih efisien dan terukur.

Gimana Rasanya di Final FIKSI?

I’m having so much fun sih. Mungkin pengalamanku di tahun ini beda sama finalis lain atau kalian nanti, tapi yang jelas setelah presentasi, rasanya tuh plong banget. Kayak lepas dari beban “kepikiran harus menang” gitu. Selama tiga hari setelahnya, otak bener-bener kosong dari tekanan lomba.

Aku diajak jalan-jalan keliling kota, mampir ke museum, terus karena aku juga ikut event dari komunitas alumni FIKSI (Fiksioner Indonesia), jadi ketemu lagi sama panitia dan peserta lama. Sampai dikira aku ikut lomba lagi, haha. Plus, akomodasi hotelnya cukup bagus dan makanannya melimpah. Banyak deh momen yang nggak terlupakan.

Kalau penasaran banget suasana finalnya kayak gimana, kalian bisa cek vlog yang aku bikin. Tinggal search aja di YouTube: ”Fiksi Journey” yang di-upload SMK Telkom Malang.

Persiapan yang Tidak Instan

So, sebenernya ini takes a lot of time. Aku udah nargetin FIKSI bahkan sebelum masuk SMA. Soalnya dua kakakku udah pernah ikut FIKSI di 2021 dan 2022, tapi unfortunately belum dapet juara. Aku ngerasa ada beban kayak ”harus pecah telor nih”, tapi di sisi lain, aku jadi untung bisa belajar langsung dari pengalaman mereka.

Dari masa MPLS aja, aku udah mulai cari *teammate* yang cocok. Accidentally, aku ketemu kakak kelas yang lagi persiapan FIKSI 2023 dan tahun itu mereka jadi Juara 1 di bidang yang persis sama kayak yang aku dapetin nanti: Juara 1 Teknologi Digital — Pengembangan Usaha Mereka jadi salah satu mentor utama aku.

Aku inget banget, pas aku bilang mau ikut FIKSI, mereka bilang:

”Jangan langsung FIKSI lah. Ikutin lomba yang kecil-kecil dulu.”

Akhirnya aku mulai ikutin belasan lomba (buat cari tim yang solid), coba aktif dan ikut di komunitas startup dan event di Malang maupun Jakarta, dan yang paling penting: cari guru pembimbing yang cocok. Gitu sih alurnya.

Dukungan Sekolah yang Bikin Beda

Dari sekolah sih support-nya banget, kalau urusan lomba. Mau ajukan dispensasi nggak dipersulit. Sekolah juga ngadain simulasi Pitching Day di depan juri beneran — ngundang praktisi, akademisi, business owner, sampai alumni tahun sebelumnya. Dan yang bikin nyaman: uang hadiah lomba itu nggak pernah diminta oleh sekolah. Full buat peserta.

Meskipun gitu, aku juga denger dari peserta lain kalau sekolahnya itu bahkan Funding ke team yang ikut FIKSI, yang tujuannya antara lain

  • Menurangi Beban Finansial ke team
  • Investasi sekolah untuk prestasi (Exposure untuk PPDB)
  • Bangun ekosistem inovasi

tapi langkah itu hadir bukan tanpa risiko, efeknya adalah

  1. Risiko “Terlalu diurusin”
    Ada bahaya kalau sekolah terlalu involved sampai ide, eksekusi, bahkan presentasi “diarahkan” oleh guru/sekolah. Hasilnya? Karya jadi kurang autentik, dan peserta nggak benar-benar own prosesnya.
  2. Ketergantungan Finansial
    Kalau dari awal terbiasa “dibiayai penuh”, peserta bisa kurang terlatih untuk resourceful: cari sponsor, bootstrapping, atau validasi ide ke user beneran. Padahal skill ini justru krusial kalau nanti terjun ke startup atau dunia kerja rill.
  3. Ekspektasi Berlebihan
    Sekolah yang sudah keluar duit biasanya punya ekspektasi tinggi: “Harus juara ya!”. Ini bisa jadi tekanan mental buat peserta, apalagi kalau proses seleksi FIKSI sendiri sangat kompetitif dan nggak bisa diprediksi.
  4. Pembagian Kue
    Diakhir pasti sekolah ingin investasinya kembali, efeknya hadiah dari pemenang pasti diminta dari pihak sekolah

Kalau ditanya, “support sekolah harusnya gimana sih “

Dukungan terbaik itu menurutku yang bikin peserta makin mandiri, bukan malah bergantung. Fokusnya: memfasilitasi proses, bukan mengendalikan hasil.

  1. Memberi Ruang, Bukan Mengarahkan Ide
    Sekolah yang bagus itu jadi “soundboard”, bukan “scriptwriter”. Guru pembimbing boleh kasih pertanyaan kritis:
    “Kenapa solusinya begini? Udah validasi ke user belum?”
    Tapi nggak sampai bilang:
    “Ganti idenya jadi ini, biar lebih menang.”
    Peserta harus tetap jadi owner penuh atas ide, eksekusi, dan presentasinya.
  2. Akses Fasilitas & Infrastruktur yang Relevan
    Dukungan nggak melulu uang. Yang sering lebih berharga:
    - Akses lab, tools prototyping, software berlisensi
    - Ruang kerja kolaboratif buat tim
    - Pelatihan public speaking, BMC, atau technical skill
    - Bantuan dokumentasi & konten untuk portofolio lomba
  3. Koneksi ke Mentor yang Berkualitas
    Sekolah jadi “jembatan”, bukan “tembok”:
    - Menghubungkan tim ke alumni FIKSI, startup founder, atau praktisi bidang terkait
    - Mengundang juri simulasi dari latar belakang beragam (akademisi, bisnis, industri)
    - Memfasilitasi pilot project atau validasi ke user beneran di komunitas/mitra sekolah
    - Meningkatkan knowladge guru pembimbing di ranah bisnis yang tepa, tidak sekedar membimbing tapi juga kompeten
    - Membangung komitmen siswa lebih serius, banyak siswa yang ingin ikut, tapi ga semua mau menyelesaikan sampai tuntas dan maksimal saat lomba
  4. Kebebasan untuk “Gagal” dan Iterasi
    Inovasi itu proses trial & error. Sekolah yang bagus nggak langsung “panik” atau tarik dukungan kalau ada revisi ide, pivot, atau hasil validasi yang nggak sesuai ekspektasi. Justru di momen itulah belajar paling dalam terjadi.

Mindset & Kesan Pesan

Mindset dari awal: JUARA 1 FIKSI.

Nggak ada cerita ikut FIKSI cuma buat ngisi waktu luang atau iseng-iseng berhadiah. Aku yakin 100% kalau mindset-nya gitu, nggak bakal dapet apa-apa, dan mending nggak usah ikut dari awal — karna setiap sekolah itu punya kuota, daripada kamu yang ngambil tapi ga niat, mending kasi ke orang orang yang bener serius. Temen-temenku yang bilang begitu, lolos tahap 1 aja nggak.

Tapi kalau kalian lagi baca medium ini, harusnya kalian sudah punya niat dan mindset itu sih.

Menurut Juri, Kenapa Ide Kami Menang?

Kalau ditanya menurut juri sih, jujur bisa dibilang nggak tau ya, karena nggak pernah tanya langsung. Tapi dari yang aku amati, alasan mereka milih kami kemungkinan karena:
- Kesesuaian antara masalah dan solusi yang ditawarkan itu jelas.
- Bisnis model-nya unik.
- Presentasinya fun dan engaging
- Cocok dengan background juri yang menilai.

Tips & Trick Juara FIKSI !

The first thing that I would say is: FIKSI is the easiest competition to get a Puspresnas medal ”if you know how to do it”.

Mungkin penjelasanku nggak terlalu menggambarkan detail inovasi yang aku buat, karena aku pengen kalian fokus padalangkah seperti apa yang harus diambil, bukan ide seperti apa yang aku ambil. Biar ide-ide di FIKSI ke depan nggak terlalu generik. Plus, langkah yang aku ambil ini mungkin lebih cocok di bidang teknologi, karena background-ku lebih banyak di startup teknologi.

1. Riset & Validasi (Where to Start Idea)

  • Start dari permasalahan di sekitar kalian, keluarga, atau lingkungan. Pastikan cocok sama passion kalian sendiri.
  • Tanya langsung ke mereka: masalahnya sebenarnya seperti apa?
  • Riset: selama ini masalah itu disolusikan seperti apa? Kenapa solusi itu belum berhasil tuntas?
  • Cari cara baru yang pas.
  • Kalau udah dapat, transfer ke metode bisnis yang ada di juknis (BMC, SWOT, dll.). Fungsinya apa? Untuk memeras ide di kepala kalian ke media yang bisa dipahami orang lain.
  • Coba ikut lomba-lomba kecil dulu buat dapet feedback dari juri/mentor.
  • Tanya feedback ke user.
  • Ulangi terus sambil persiapan FIKSI.

2.Memilih Teammate

Perpaduan yang pas itu penting. Mungkin ada yang familiar dengan konsep Hipster, Hacker, Hustler. Pastikan komposisinya pas. Kalau belum tau, bisa coba searching lagi.

  • Jangan pilih cuma karena temen dekat atau pacaran.
  • Jangan pilih cuma karena punya kemampuan yang sama.
  • Sesuaikan dengan bidang lomba yang kalian ambil.l.

3. Banyak Kesalahan Pemilihan Bidang

Ini bukan kataku, tapi kata juri langsung. Beliau cerita bahwa banyak yang daftar tapi nggak mencapai standar minimum (under qualified). Di final, kuota tiap bidang nggak selalu rata. Daripada maksa masukin yang nggak standar, mending nggak masuk final.

Alasannya:

  • Idonya terlalu generik (banyak yang sama).
  • Inovasi udah pernah muncul tahun sebelumnya.
  • Penemuan yang seharusnya di Teknologi Digital malah masuk Fashion.
  • Yang harusnya Perencanaan Usaha malah Pengembangan Usaha, atau sebaliknya.

Cara menentukan bidang yang tepat:

  • Cek pemenang tahun lalu, karena tiap juri punya preferensi sendiri.
  • Cari tau background jurinya (pasti beda penilaiannya).
  • Perencanaan Usaha: Inovasi masih prototype, belum ada penjualan. Lebih cocok disebut business plan competition.
  • Pengembangan Usaha: Bisa dibilang startup competition. Sudah ada transaksi minimal 3 bulan sebelum ajang dimulai. Proyeksinya beda banget antara “sudah memulai” vs “akan memulai”.

4. Improvisasi di Setiap Tahap

Jangan takut buat berubah. Dalam bisnis ada istilah pivot. Kalau ide kalian butuh perubahan, lakukan. Di laman FIKSI, setiap tahap bakal ada feedback. Feedback itu wajib diterapkan, karena yang dinilai adalah proses perkembangan di tiap tahapnya.

5. Cari Mentor di Luar Guru

Guru diajari untuk mengajar, bukan untuk membangun bisnis. Banyak yang salah kaprah menganggap apa kata guru pembimbing adalah jalan terbaik. Faktanya, yang paling tau ide kalian ya kalian sendiri — karena kalian yang nulis proposal dan presentasi. Kalau ide dari guru, sering banyak pertanyaan “why” yang terlewat.

Bukan berarti guru nggak diperlukan. Tugas pembimbing adalah bikin kalian kritis. Pembimbing bukan pengarah/penentu, melainkan pemberi feedback.

Contoh mentor eksternal yang ideal:

  • Business Owner
  • Startup Founder
  • Direktur Utama Perusahaan
  • Alumni FIKSI

Recap Singkat

  1. Validasi IDE
  2. Mencari Teammate yang tepat
  3. Memilih bidang yang tepat
  4. Improvisasi di setiap tahap
  5. Cari mentor di luar guru

Anyways, mungkin sekarang kalian belum nangkep semua poin karena masih di tahap cari ide. Tapi semua poin ini bisa dicatat dan dipikirin perlahan seiring proses berjalan.

Semangat buat ikut FIKSI! Kalau kalian tau caranya, jalannya udah jelas di depan mata,

please feel free to contact me if you have any question regarding FIKSI or any related fields.
1

The route continues… wait for the bus to arrive.

Let's Connect

Let's Build Something Together

Interested in collaborating on AI projects, competitions, or innovative tech solutions? I'd love to hear from you.